This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wednesday, August 10, 2016

Strukutur Pengurus Harian KKN 65


Sore Hujan

Sore Hujan
Oleh: Ani Marlia
Berduyun rintik basah
Kaki mungil bekas lumpur
Kuyup badan terguyur
Bibir pucat pasih

Senyum mengulum lugu
Berbaris berdatangan menyapa
Tegur menegur berucap kata
Mata mengerjap haru

Bekas hujan sore,
Menjadi saksi bukti
Mengenang kisah bersama
Salam berpisah terukir


Galis, 09 Agustus 2016


Kami Tidak Ingin Gaptek, Pak

Kami Tidak Ingin Gaptek, Pak
Oleh: Miftahul Arifin
Kami tidak pernah diajari tentang komputer, kak”
            Kalimat itu lah yang pertama terucap ketika ku tanya tentang komputer. Begitu polosnya mereka menjawab pertanyaanku. Ku berkata dalam hati, apa yang di perbuat guru mereka sehingga tidak pernah mengajari mereka tentang komputer di tengah zaman modernisasi seperti sekarang ini, entahlah.
Hari itu adalah hari pertama aku mengajar anak-anak di salah satu Madrasah Ibtidaiyah di Desa Longkek Kecamatan Galis tepatnya  di kelas 4. Aku berangkat dari tempatku KKN sebenarnya tidak berniat untuk mengajar, namun karena aku sebagai kordinator desa yang tugasnya untuk mengontrol kegiatan yang dilakukan oleh anggota kelompokku. Satu-persatu kelas ku perhatikan, tidak begitu banyak anak-anak yang ada di setiap kelas di MI tersebut. Serasa asing mereka di pikiranku, karena selama ini sekolah-sekolah yang ku lihat mempunyai bangunan bagus, fasilitas lengkap, seragam dan atribut sekolah yang lengkap, siswa yang banyak, serta guru yang profesional, sangat berbeda sekali dengan sekolah ini yang sangat serba kekurangan, baik dari sarana maupun prasarana,
Melihat anak-anak yang sangat polos menggugah hatiku untuk ikut mengajar di MI tersebut, meskipun tanpa bersiapan yang matang, ku coba mengajari mereka tentang pelajaran TIK dasar, pertama ku berikan pertanyaan untuk memancing semangat mereka, namun mereka hanya terdiam, entah apa yang mereka pikirkan. Karena di ruang guru ada sebuah komputer, ku ambilkan beberapa komponen komputer untuk dijadikan sebagai mediaku dalam mengajari mereka. Ku tunjukkan kepada mereka komponen komputer yang kubawa, namun tetep saja mereka terdiam tanpa ada pertanyaan benda apa yang ada di tanganku.
“apakah ada yang tahu nama benda ini ?” tanyaku kepada mereka (dengan menunjukkan sebuah keyboard)
“tidak tahu, kak” jawab mereka serempak
“oke, apakah ada yang pernah melihat benda ini sebelumnya ?” tanyaku lagi
“pernah kak” jawab seorang siswa
“dimana dik ?” ku bertanya lagi
“di ruang guru, kak” jawab siswa tadi
Jawaban itu lah yang membuatku merasa heran, dengan kemajuan zaman seperti sekarang ini dimana pengetahuan tentang komputer sangat diperlukan tetapi siswa-siswi di MI tersebut masih jauh sekali dari kata mahir. Hal ini berbeda sekali dengan dengan anak-anak kota usia sekolah dasar yang sudah bisa dibilang mahir dalam menggunakan komputer. Hal ini sangat diperlukan dalam membentukan bakat anak-anak usia sekolah dasar dalam menghadapi zaman dimana teknologi yang akan semakin canggih.

Sebagai seorang guru yang kewajibannya mengajari siswa-siswinya, bekal yang paling utama adalah kompetensi, dimana sorang guru tersebut harus serba tahu dan siap menjawab segala kebutuhan siswa dalam belajar. Itupun yang harus aku persiapkan mulai dari sekarang sebagai calon pendidik, dimana ku harus bisa mengajari muridku dalam segala hal.

Semangatmu Juga Semangatku

Semangatmu Juga Semangatku
Oleh: Awalia Fitriani

PAUD Syaichona Hasani terletak di Dusun Barat Sumber Desa Longkek Kecamatan Galis. Di PAUD Syaichona terdapat 18 murid. Perjalanan dari Basecamp menuju ke PAUD Syaichona Hasani sekitar -+ 10 menit dengan medan jalan yang lumayan terjal, karena dusun tersebut berada di atas bukit yang berbatu.
Semangat anak-anak bersekolah sangatlah tinggi. Senyum yang ceria selalu hadir dalam diri mereka. Wajah yang polos, lugu dan jiwa yang bersih terlihat pada diri mereka. Semangat mereka dalam belajar, sangat menginspirasiku untuk lebih semangat lagi dalam mengajar dan lebih bangga menjadi guru PAUD.
Pendidikan bagi anak usia dini adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan anak. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada peletakkan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan, daya cipta, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual.
Menjadi seorang guru adalah pekerjaan yang mulia. Selain itu untuk menjadi seorang guru biasanya memiliki hasrat yang kuat untuk berbagi ilmu pengetahuan yang telah dipelajari ke orang lain. Tidaklah gampang menjadi guru terlebih untuk tingkat anak-anak usia dini. Membutuhkan kesabaran serta ketelatenan supaya tujuan dari pengajaran dapat terwujud dengan baik.
Mengajar di PAUD Syaichona Hasani merupakan sebuah pengalaman yang tidak akan aku lupakan selama  kuliah di Universitas Trunojo Madura, dan karena adanya KKN (Kuliah Kerja Nyata) aku bisa mengenal desa Longkek, khusunya untuk mengajar di Dusun Barat Sumber Longkek Galis.
Sarana dan prasarana di PAUD Syaichona Hasani sangat terbatas, dengan satu ruangan kelas dan terdapat pendidik satu. Area bermain  seperti, ayunan, jungkat-jungkit tidak tersedia di PAUD Syaichona Hasani. Di sana anak- anak bermain di halaman sekolah yang beralaskan tanah yang kering, dan sebagian anak-anak mereka tidak memakai sepatu maupun sandal, hanya bertelanjang kaki berangkat ke sekolah. Keadaan seperti itu tidak menjadi penghambat mereka untuk berangkat ke sekolah.

Pada saat pembelajaran berlangsung mereka sangat berantusias mengikuti setiap kegiatan, seperti pada saat mereka diajak mewarnai gambar ikan, menempel kapas di gambar domba (kolase), mereka sangat senang yang biasanya hanya menggunakan media papan tulis saja dalam belajar.

Menjadi guru yang disukai anak-anak memang membutuhkan waktu dan proses. Banyaklah belajar dari pengalaman serta selalu mengevaluasi diri, tak ada hal yang sia-sia lantaran setiap kebaikan pasti akan memperoleh balasan entah itu besar maupun kecil.

Tawa Lepas Dikesibukan Belajar

Tawa Lepas Dikesibukan Belajar
Oleh: Achmad Fathany
Pagi yang indah diiringi kicauan burung suasana riang oleh gelak tawa anak-anak di desa ini, tepatnya di Dusun Barat Sumber Desa Longkek Kecamatan Galis Bangkalan. Pagi ini saya bersama teman-teman KKN 65 melakukan salah satu kegiatan dari beberapa kegiatan yang tersusun, yaitu mengajar di sekolah tepatnya di Yayasan MID Syaichona Hasani. Sampai disana kami beserta teman-teman KKN 65, disambut dengan pertemuan siswa-siswi yang sangat antusias menyambut kedatangan saya dan teman-teman KKN 65 di kelas. Sebelum pelajaran di mulai kami memperkenalkan diri kepada siswa-siswi, dan sebaliknya kami meminta mereka untuk memperkenalkan diri satu persatu. Setelah perkenalan, saya memberikan materi kepada mereka sesuai dengan kurikulum yang sudah ditetapkan di yayasan tersebut. Dengan suasana yang ramai dan siswa-siswinya yang tidak beraturan terpaksa saya harus mengeluarkan banyak tenaga menghadapi siswa-siswi tersebut, dan juga saya harus bisa mengkondisikan kelas dengan tenang, maklumlah ini pertama kalinya bagi saya terjun langsung mengajar. Lama-kelamaan kondisi kelas semakin membaik.

Seiring berjalannya waktu, selain memberikan materi kepada siswa-siswi saya juga memberikan
permainan, supaya meraka tidak bosan dan jenuh saat berada di dalam kelas. Karena bermain sangatlah penting untuk merefresh otak anak-anak, disitulah tawa lepas mereka keluar dan suasana kelas pun terasa menyenangkan.
Setiap prasangka akan menimbulkan efek yang kurang sehat bagi tubuh. Tidak ada kebaikan sedikitpun pada setiap prasangka yang terus dipelihara tanpa ada pencegahan yang intensif. Seperti itulah gambaran suasana pagi ini, banyak prasangka yang berkeliaran. Tetapi, ketika matahari keluar dari peraduannya, maka prasangka tersebut berguguran satu demi satu.

Canda tawa, kenakalan mereka, semangat belajar mereka menjadi sebuah pengalaman baru dalam hidup, yang sebelumnya belum saya dapatkan. Malu rasanya melihat semangat belajar mereka yang luar biasa ketika mencari Ilmu. Sedangkan rasa malas kadang melanda diri ini ketika hendak mencari ilmu.

Jangan Menyerah Meraih Mimpi

Jangan Menyerah Meraih Mimpi
oleh: Nina Indriyana Lahay

Hidup adalah sebuah arena untuk bertarung agar dapat merebut kebahagiaan dalam berbagai wujud. Ketika bisa menjadi pribadi yang tangguh dan tidak mudah menyerah, maka kemenangan itu pasti akan dimiliki.
Pendidikan adalah gerbang menuju kehidupan yang lebih baik dengan memperjuangkan hal kecil hingga hal terbesar yang akan dilewati setiap manusia. Pendidikan bekal untuk mengejar semua yang ditargetkan seseorang dalam kehidupan, sehingga tanpa pendidikan semua yang diimpikan akan menjadi sangat sulit untuk dapat diwujudkan.
Tidak ada sesuatu yang tidak membutuhkan perjuangan. Hidup sejatinya mengajarkan untuk bisa menjadi pribadi yang tangguh, karena ketangguhan yang kita miliki akan membuka kesempatan untuk dapat meraih sesuatu yang bernilai, tidak ada yang instan dalam hidup. Segala sesuatu yang ingin didapat harus diperjuangkan, tidak akan mendapatkan apapun tanpa disertai perjuangan yang berarti. Ketika terjatuh, maka harus bangun dan kembali melangkah terus melangkah.

Jadi jangan bosan untuk belajar membaca dan terus belajar. Melakukan yang terbaik bukan diluar kapasitas diri, tapi melakukan yang terbaik sesuai dengan kapasitas diri sendiri. Terus berjuang maka segalanya akan menjadi lebih baik.

Tau Gak Sih???

Tau Gak Sih???
Oleh: Iis Ariska
OOl
            Sekarang adalah zaman penuh dengan teknologi, semua peralatan rumah tangga juga sudah beralih semua dengan menggunakan sistem elektronik dan menggunakan listrik serta bekerja secara otomatis sesuia keinginan si pengguna. Seperti peralatan masak, banyak peralatan masak yang digunakan kini sudah menggunakan elektronik yang modern dan otomatis serba praktis tanpa harus ditongkrongin. Penggunaan peralatan modern ini menyebabkan banyak orang meninggalkan peralatan masak tradisionalnya. Mungkin jaman sekarang sudah tidak banyak orang yang mengenal peralatan masak tradisional bahkan generasi sekarang tidak tahu bentuk tungku dan cara kerjanya.
          
  Di Desa Longkek Kecamatan Galis Kabupaten Bangkalan Madura, saya menemukan tungku yang sangat unik yang tak seperti biasanya saya temukan di daerah lain. Mungkin di daerah lain, tungku tradisional menggunakan batu bata atau tungku yang sudak dicetak dengan bahan baku tanah liat tetapi di Desa Longkek ini, tungku yang digunakan adalah tungku dengan cara melubangi tanah dan dibentuk seperti tungku yang sudah dicetak dan berbahan baku tanah liat. Tungku yang mereka buat dengan cara menggali taanah tersebut bisa dibuat lubang sesuai dengan keinginan mereka. Ada yang hanya satu lubang, dua lubang bahkan ada yang tiga lubang. Aneh dan unik karena bagian tanah sebagai penyangga panci untuk menanak,merebus, dan menggoreng tetap kuat dan tidak mengalami retakan. Unik bukan?. Mungkin ini tidak bisa dijelaskan dengan kata- kata karena kalian yang membaca artikel ini tidak melihat secara langsung.
            Warga Longkek, biasanya membuat tungku unik ini ketika mereka mempunyai hajatan besar seperti acara mantenan, haflatul imtihan, maulid nabi dan acara- acara besar lainnya. Dengan berbagai alasan, mereka lebih senang memasak dengan menggunakan alat masak tradisional dan hemat ini, dalam artian tidak usah menggunakan uang untuk mengisi bahan bakar karena kayu bakar masih mudah didapatkan. Mereka juga senang menggunakn tungku karena melihat dari sisi keamanan.

            Menurut mereka, memasak menggunakan tungku ketika mempunyai hajatan juga mempererat tali persaudaraan antar sesama karena api tungku dijaga secara bersama antar warga. Unik bukan?, selain mengehmat bahan bakar tungku dengan cara hanya melubangi tanah ini bisa memperat tali persaudraan dimana memang identik dengan watak dan karakter orang madura yang menjunjung tinggi kebersamaan. Hal ini menunjukkan orang madura sangat menjunjung tinggi kearifaan lokal. Dalam hal ini,melaui tungku unik yang dijaga secara bersama- sama demi api yang menyala dalam bahasa Madura kebersamaan itu dikenal dengan istilah “song- osong lombhung”.